Jumat, 13 Juni 2014

ASKEP SCABIES



BAB I

PENDAHULUAN


I.1   Latar Belakang
            Kulit yang menutupi tubuh adalah salah satu organ yang terbesar, sekitar 16 % dari berat badan. Kulit memiliki beberapa fungsi penting yaitu; merupakan sawar yang melindungi organisme terhadap trauma dan pengikisan, organ sensoris taktilnya menerima rangsangan dari lingkungan, dan berperan penting dalam pengaturan suhu dan keseimbangan air. Kulit terdiri dari dua lapisan utama  yaitu, epitel permukaan yang disebut epitel epidermis dan lapisan ikat dibawahnya, dermis atau corium.
            Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh Tungau Sarcoptes Scabie tipe humanus yang merupakan sejenis family Anthropoda yang benyak menyerang pada orang-orang yang hidup dengan kondisi  hygiene dibawah standard dan orang-orang yang seksual aktif atau  hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas ( dengan siapa saja, tidak memilih – milih ), sosial ekonomi rendah, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografik serta ekologik. Sarcoptes Scabiei menginvasi kulit pada bagian epidermis tepatnya pada Scratum Corneum. Dimana lapisan ini merupakan lapisan sel  yang  sangat gepeng penuh keratin tanpa inti tanpa organel sitoplasma. Pada sel-sel lapisan Scratum Corneum saling melekat erat dengan dermosom yang telah dimodifikasi. Pada lapis-lapis luar Scratum Corneum yang telah mengalami kereatinisasi sempurna, sel-selnya akan mati, melonggar dan akhirnya akan dilepaskan.Sarcoptes Scabie masuk kedalam Scratum Corneum membentuk kanali kulit  atau terowongan yang lurus atau berkelok-kelok sepanjang 0,6-1,2 cm, sehingga penyakit ini menimbulkan rasa gatal dan eksema yang disebabkan oleh garutan.
            Scabies atau Kudis dapat menyerang  dan paling banyak ditemukan pada anak-anak terutama dibawah usia 15 tahun. Scabies ini juga sering menjangkit dikomunitas yang padat, pusat asuhan-asuhan, asrama dan panti-panti.
            Tempat – tempat predileksinya yaitu ; sela – sela jari tangan, pergelangan tangan bagian dalam, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae ( wanita ), pusat, bokong, alat kelamin luar ( pria ) dan perut bagian bawah.  Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.
I.2   Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyakit Scabie, maka kami menyusun rumusan masalah sebagai berikut :
  1. Menjelaskan tentang pengertian penyakit Scabie.
  2. Menjelaskan tentang penyebab dan gejala penyakit Scabies.
  3. Menjelaskan tentang patofisiologi penyakit dan komplikasinya.
  4. Menyusun askep pada klien dengan masalah Scabies.






BAB II
PEMBAHASAN

II.1   Pengertian
            Scabies adalah penyakit kulit yang mudah menular yang disebabkan oleh infestasi tungau (kutu) yang berada dalam Stratum Corneum kulit terutama pada tempat predileksinya.
II.2   Etiologi
            Timbulnya Scabies di dahului oleh infestasi kutu Sarcoptes Scabie Var Hominis yang membuat terowongan pada Stratum Corneum.
II.3   Patofisiologi
            Kelainan kulit disebabkan oleh masuknya tungau Sarcoptes Scabie Var Hominis kedalam lapisan kulit. Tungau betina yang dewasa akan membuat terowongan pada lapisan superficial kulit dan berada di sana selama sisa hidupnya. Dengan rahang dan pinggir yang tajam dari persendian kaki depannya, tungau tersebut akan memperluas terowongan dan mengeluarkan telurnya 2-3 butir sehari selama 2 bulan. Kemudian kutu betina tersebut akan mati. Larva atau telur menetas dalam waktu 3-4 hari dan berlanjut lewat stadium larva serta nimfa menjadi bentuk tungau dewasa dalam tempo sekitar 10 hari. Sedangkan tungau jantan mati setelah kovulasi. Kelainan yang timbul di kulit tidak hanya disebabkan oleh tungau Scabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan karena merasa gatal, sehingga dapat menimbulkan infeksi sekunder. Gatal disebabkan oleh sensitisasi terhadap cairan yang dikeluarkan oleh tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papula, vesikel, urtikaria, dll. Dengan garukan dapat menimbulkan erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.
            Cara penularan dari jenis tungau ini dapat melalui kontak langsung antara kulit dengan kulit misalnya dengan berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual dan juga kontak tak langsung (melalui benda seperti pakaian, handuk, seprei, bantal, dll).
II.4   Gejala Klinis
            Gejala yang dapat ditimbulkan pada penyakit Scabies adalah gatal pada malam hari karena aktivitas tungau yang lebih lembab dan panas. Bintik-bintik yang panas yang menonjol berwarna kemerah-merahan dan bernana jika terinfeksi. Adanya terowongan pada tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan,terbentuk impetigo dan purunkulosis, ditemukannya papul, vesikel, urtika. Pada daerah garukan dapat timbul erosi, ekskresi, krusta dan infeksi sekunder.
II.5   Komplikasi
            Komplikasi yang mungkin timbul pada penyakit Scabies adalah :
v  Pioderma
v  Furunkulosis
v  Impetigo
II.6   Pengkajian
            Pada penyakit Scabies dapat ditemukan hasil pengkajian sebagai berikut :
  1. Pemeriksaan fisik
1.       Bengkak / gelembung halus pada kulit
2.       Rasa gatal yang hebat dan panas pada malam hari / pruritus nocturna
3.       Kulit bintik kemerah-merahan
4.       Terbentuk terowongan berwarna putih / keabu-abuan berbentuk garis lurus pada Stratum Corneum
5.       Pustula, ekskoriasis.
  1. Pemeriksaan penunjang
Ditemukan tungau melalui biopsieksisional dengan pewarna HE.
II.7   Diagnosa Keperawatan
1)       Nyeri b/d lesi kulit, pruritus nocturnal.
2)       Kerusakan integritas kulit b/d penggarukan pruritus.
3)       Gangguan citra tubuh b/d persepsi penampilan.
4)       Gangguan istirahat tidur b/d rasa gatal pada malam hari.
5)       Kecemasan orang tua dan anak b/d kondisi  penyakit klien, reaksi hospitalisasi.
6)       Kerusakan interaksi sosial b/d isolasi dari teman sebaya.
II.8   Intervensi Keperawatan
1)       Nyeri b/d lesi kulit, pruritus nocturnal.
Kriteria hasil :
             - Klien menunjukan nyeri berkurang dan terkontrol.
             - Terlihat rileks dan dapat tidur/istirahat.
a.       Kaji tingkat nyeri dengan skala 0-10.
R/ : Memudahkan perawat dalam menentukan tingkat nyeri.
b.       Catat lokasi dan factor-faktor pencetus.
       R/ : Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan asuhan.
c.       Gunakan terapi bermain, relaksasi sesuai usia dan kondisi.
R/ : Mengalihkan perhatian terhadap nyeri sehingga nyeri berkurang.
d.       Biarkan klien untuk mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur/ duduk.
R/ : Pemberian posisi yang nyaman membantu klien untuk berelaksasi.
2)       Kerusakan integritas kulit b/d penggarukan pruritus.
Kriteria hasil :
- Menunjukan regenerasi jaringan.
- Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka.
a.       Lakukan program terapeutik sesuai ketentuan atau dukungan dan bantu orang tua dalam melakukan rencana pengobatan.
R/ : Untuk meningkatkan pemulihan kulit.
b.       Kaji kulit setiap hari, catat warna, turgor, sirkulasi dan sensasi gambaran lesi dan amati perubahan.
R/ : Memberikan informasi dasar tentang sirkulasi pada area graft.
c.       Jaga agar pakaian dan linen tetap bersih dan kering.
R/ : Untuk meminimalkan ekskoriasis dan infeksi kulit.
d.       Jaga agar kuku tetap pendek dan bersih.
 R/ : Untuk meminimalkan trauma dan infeksi sekunder.
e.       Berikan pakaian yang tipis, longgar dan tidak mengiritasi.
R/ : Panas yang berlebihan dapat meningkatkan rasa gatal.
f.        Anjurkan klien untuk mandi air hangat dan menggunakan sabun yang tidak mengiritasi.
R/ : Untuk meningkatkan personal hygiene, meminimalkan rasa gatal.
g.       Berikan obat topical  sesuai indikasi  dan anjurkan kepada klien untuk tidak mandi selama pengobatan (24 jam).
- Gamecsan atau benzyl benzoat
      - Vaselin, lindane
                    R/ : Obat diatas membantu untuk mengontrol lesi/gatal.
3)       Gangguan citra tubuh b/d persepsi penampilan.
Kriteria hasil :
- Klien menunjukan citra diri yang positif.
a.       Dorong anak untuk mengekspresikan perasaan tentang penampilan pribadi dan reaksi yang dirasakan dari orang lain.
R/ : Untuk memfasilitasi koping pada anak.
b.       Diskusikan bersama anak dan orang tua tentang perbaikan kondisi kulit.
R/ : Untuk memberikan harapan pada anak.
c.       Ajarkan perawatan diri yang tepat.
R/ : Untuk mendorong rasa keadekuatan.
d.       Bantu anak memperbaiki penampilan (pakaian yang bersih).
R/ : Untuk meningkatkan citra diri yang positif.
4)       Gangguan istirahat tidur b/d rasa gatal pada malam hari.
Kriteria hasil :
- Klien melaporkan perbaikan dalam pola tidur.
- Mengungkapkan peningkatan rasa sejahtera dan segar.
a.       Tentukan kebiasaan tidur dan perubahan yang terjadi.
              R/ : Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.
b.       Berikan tempat tidur yang nyaman, pertahankan agar seprei tetap bersih, kering dan tidak berkerut.
             R/ : Meningkatkan kenyamanan tidur serta dukungan fisiologis/psikologis dan gatal      kulit disebabkan oleh kain lembab menyebabkan iritasi dan potensial terhadap infeksi.
c.       Intruksikan tindakan relaksasi dan kurangi kebisingan.
             R/ : Membantu menginduksi tidur, menciptakan situasi yang kondisif untuk tidur.
d.       Tingkatkan regrigmen kenyamanan waktu tidur, misalnya mandi air hangat, minum segelas susu hangat.
             R/ : Meningkatkan efek relaksasi.
5)       Kecemasan orang tua dan anak b/d kondisi penyakit klien, reaksi hospitalisasi.
Kriteria hasil :
- Orang tua dan anak menunjukan kecemasan yang minimal.
- Klien menunjukan keterampilan pemecahan masalah dan menggunakan koping yang efektif.
a.       Berikan penjelasan dengan sering dan informasi tentang prosedur perawatan.
R/ : Menurunkan ketakutan dan ansietas, memperjelas kesalahan konsep dan meningkatkan kerja sama.
b.       Anjurkan orang tua untuk selalu berada disamping anak.
R/ : Mempertahankan kontak dengan realitas keluarga, membuat rasa kedekatan dan kesinambungan hidup.
c.       Berikan permainan yang menarik kepada anak selama tidak bertentangan dengan pengobatan dan perawatan.
R/ : Dengan permainan dapat mengurangi ketakutan dan kecemasan sewaktu dilaksanakan asuhan keperawatan.
d.       Libatkan keluarga/ orang tua klien dalam setiap tindakan.
R/ : Meningkatkan partisipasi orang tua terhadap tindakan keperawatan di harapkan dapat mengurangi ansietas.
e.       Gunakan komunikasi terapeutik, kontak mata, sikap tubuh dan sentuhan.
R/ : Dapat meningkatkan rasa percaya diri pada anak dan meminimalkan ansietas.
6)       Kerusakan interaksi sosial b/d isolasi dari teman sebaya.
Kriteria hasil :
- Pasien memahami alasan isolasi
- Pasien mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang tepat.
a.       Jelaskan alasan pengisolasian dan penggunaan kewaspadaan khusus.
R/ : Untuk meningkatkan pemahaman anak tentang pembatasan.
b.       Sebelum melakukan tindakan perkenalkan diri pada anak.
R/ : Menjalin hubungan kedekatann dan meningkatkan harga diri anak.

c.       Siapkan teman sebaya anak untuk perubahan penampilan fisik.
R/ : Untuk mendorong penerimaan teman sebaya.




















BAB III
PENUTUP
           
III.1   Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah :
1.           Scabie (the itch, gudik, budukan, gatal agogo) adalah penyakit yang disebabkan oleh Sarcoptes  Scabiei Var Hominis yang menyerang pada Stratum Corneum dan membuat terowongan di dalam kulit yang menimbulkan rasa gatal yang hebat dan panas terutama pada malam hari.
2.           Tempat predileksinya adalah : sela,sela jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae, pusat, bokong, alat kelamin luar pria, perut bagian bawah, pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.
3.           Cara penularannya adalah melalui kontak langsung yaitu kulit dengan kulit misalnya berjabat tangan, tidur bersama, hubungan seksual dan kontak tak langsung yaitu melalui benda misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dll.
4.           Penyakit Scabies dapat di obati dengan menganjurkan klien untuk mandi air hangat dan menggunakan sabun yang tidak iritatif kemudian mengoleskan obat topical, gameksan dalam bentuk krim atau lotion. Bila tidak tersedia bisa diganti dengan benzyl benzoate 10-20 %, diberikan pakaian bersih dan dilarang mandi selama 24 jam atau selama penggunaan obat.
5.           Penyakit ini dapat diberantas dan prognosisnya baik bila pilihan obat dan cara pemakaian tepat, factor predisposisi dihilangkan (personal hygiene ditingkatkan).
III.2   Saran
            Melalui makalah ini, diharapkan dapat memberikan sumbangsih pengetahuan mengenai Scabies dan penatalaksanannya (asuhan keperawatan yang profesional ).

      
           













DAFTAR PUSTAKA

1.           Adam A. M. Dr. Sp. Kk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Makassar. 2002.
2.           Arif Mansjoer, dkk.Kapita Selekta Kedokteran Edisi 4 Jilid 2.  Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI. Jakarta. 2000

3.           Brunner dan Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 .Vol. 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2001.

4.           Donna L Wong, Pedoman klinis perawatan pediatric, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta, 2004.

5.           http://www.eramoslem.com/ks/ks/53/17448,1,v.html.


8.           http://spellster.com/s/scabies.
10.       http://www.iptek.net.id/ind/cakra_obat/tanamanobat.php?id=111
11.       Marilynn E. Doenges, dkk. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC. Jakarta. 1999.
12.       Staf Pengajar Ilmu Keperawatan Anak FK-UI, Ilmu Kesehatana Anak. IU- Press. Jakarta.1985.


ASKEP GASTRITIS



GASTRITIS


I.Definisi
Gastritis  adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan sub-mukosa lambung. Secara histopatologi dap[at dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut. Berdasarkan pada manipestasi klinik, gastritis dapat dibagi menjadi akut dan kronik.
Gastritis akut adalah implamasi akut mukosa lambung. Sedangkan gastritis kronik merupakan impiltrasi sel-sel radang yang terjadi pada lamina propria dan daerah intra efitelia terutama terdiri atas sel-sel radang kronik, yaitu sel-sel limposit dan sel plasma.
II.    patofisiologi
 II.a. Gastritis Akut.
masalah gastritis belum diketqahui yang pasti terdapat gangguan keseimbangan pertahanan mukosa lambung normal dengan sekresi asam lambung yang agresif.Faktor-faktor yang amat penting adalah iskemia pada mukosa gaster, disamping paktor pepsin, refluks empedu dan cairan pancreas.
                 Aspirin dan anti implamasi non steroid merusak mukosa lambung melalui beberapa mekanisme. Obat-obat ini dapat menghambat aktifitas siklooksigenase mukosa. Siklooksigenase merupakan enzim yang penting untuk pembentukan prostaglandin dari asam arakidonat. Prostaglandin mukosa merupakan salah satu factor defensip mukosa lambung yang amat penting. Selain menghambat produksi prostaglanding mukosa, aspirin dan obat anti implamasi nonsteroid dapat merusak mukosa secara tropical. Kerusakan tropical terjadi karena kandungan asam dalam obat tersebut bersifat korosit sehingga dapat merusak sel-sel efitel mukosa. Pemberian aspirin dan obat anti implamasi non steroid dapat juga menurunka sekresi bikarbonat dan mucus oloeh lambung sehingga kemampuan factor defensive terganggu.
II.b. gastritis Kronik.
Gastritis kronis dapat diklasifikasikan secara histology dan secara anatomi.secara histologi dibagi dalam empat klasifikasi yaitu:
  1. Gastritis super pisialis apabila dijumpai sel-sel radang kronik terbetas pada lamina propria mukosa superpisial dan edema yang memisahkan kelenjar-
  2.  
kelenjar mukosa, sedangkan sel-sel kelenjar tetap utuh sering dikatakan gasrttritis keronis superpisialis merupakan permulaan gastritis kronis.
  1. Gastritis kronis atropik sebukan sel-sel radang kronik menyebar lebih dalam disertai dengan distorsi dan destruksi selkelenjar mukosa lebih nyata dan dianggap sebagai kelanjutan gastritis kronik superficial.
  2. Atrofi lambung dianggap merupakan stadium akhir gastritis kronik. Pada saat itu stuktur kelenjar menghilang dan terpisah satu sama lain secara nyata dengan jaringan ikat, sedangkan sebukan sel-sel radang menurun. Mukosa menjadi sangat tipis sehingga pembulu darah menjadi terlihat pada pemeriksaan endoskopi.
  3. Metaplasia intestinal, suatu perubahan histologis kelenjar-kelenjar mukosa lambung menjadi kelenjar-kelenjar mukosa usus halus yang mengandung  sel goblet.  
 Secara anatomis,gastritis kronik dapat dibagi menjadi:
a.       gastritis kronik korpus sering juga disebut gastritis tipe A Perebahan-perubahan histology terjadi terutama pada korpus dan pundus lambung. Gastritis tipe A sering dihubungkan dengan proses auto imun, dan lanjut menjadi anemia pernisiosa. Sel parietal yang mengandung kelenjar mengalami kerusakan sehingga sekresi asam lambung menurun.dan menyebabkan gangguan absorbsi vitamin B12 yang menimbulkan anemia pernisiosa.
b.      Gastritis kronik antrum. Disebut sebagai gastritis tipe B gastritis tipe ini mempunyai hubungan dengan kuman Helicobacter pylori.
c.       Gastritis tipe AB merupakn gastritis kronik yang distribusi anatominya menyebar keseluruh gaster. Penyebaran ke arah korpus cenderung meingkat dengan bertambahnya usia.
lll.   ETIOLOGI
lll.a. gastritis akut.
            Gastritis akut dapat terjadi tampa diketahui penyebanya, tetapi diduga paktor predis posisinya dapat disebabkan oleh diet yang semberono, makan yang terlalu banyak, makan yang terlalu cepat, makan makanan yang terlalu berbumbu, atau makanan yang mengandung mikroorganisme penyebab penyakit. Penyebab lain dapat mencakup alcohol, aspirin, refluks empedu atau trapi radiasi. Bentuk terberat dari gastritis akut disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat yang dapat menyebabkan mukosa lambung  menjadi ganggreng atau perforasi.Keadaan klinis yang sering menimbulkan gastritis erosive misalnya trauma yang luas operasi besar,



gagal ginjal, gagal napas, penyakit hati yang berat, renjatan, luka baker yang luas, trauma kepala dan septicemia.
lll.b. Gastritis Kronis.
            Etiologi Gastritis kronik  yaitu aspek imunologis dan aspek bakteriologis (Helicobacter Pylori).
            Hubungan antara system imun dengan gastritis kronik dapat dilihat dengan ditemukannya autoantibody terhadap paktor intrinsic lambung.dan sel pariental.pada pasien anemia pernisiosa.
lV. Manipestasi klinis.
            Gejala klinis pada pasien gastritis dapat mengalami mual, muntah, nyeri uluhati, anoreksia, Ulserasi superficial dan mengarah pada hemoragi, sakit kepala, lesu, cegukan, rasa asam dalam mulut, sendawah.
V. Evaluasi diagnostic.
            Evaluasi diagnostic dapat ditegakkan dengan pemeriksaan gastroideudoneskopi,gastroskopi, endoskopi, pemeriksaan sinar x gastro intestinal atas, pemeriksaan histologis. Tes serologis digunakan untuk mendeteksi H. Pylori.
VI. Penata laksanaan
VI.a. gastritis akut.
  • Pantang minum alcohol dan makan makanan sampai gejala menghilang, ubah menjadi diit yang tidak mengiritasi.
  • Jika gejala menetap mungki diperlukan cairan intra vena
  • Jika gastritis terjadi akibat menelan asam kuat atau alkali encerkan dan netralkan asam dengan antasida umum seperti aluminuium hidroksida, untuk menetralisasi alkali gunakan jus lemon encer atau cuka encer.
  • Jika korosi parah, hindari emetic dan bilas lambung karena bahaya perforasi.
VI.b. gastritis kronik.
  • Memodifikasi diet pasien.
  • Meningkatkan isrtirahat
  • Mengurangi stress.
  • Memulai farmakoterapi
  • H.Pylori dapat di atasi dengan antibiotic ( tetra ciclin, metronidasol, klaritromisin dan amoxisilin).


VII. Proses  keperawatan.
a. Pengkajian.
 Pada tahap pengkajian perawat perlu menanyakan kepada klien antara lain:
1.      Apakah pasien mengalami nyeri uluhati, mual, muntah dan tidak dapat makan.
2.      apakah gejala terjadi pada waktu kapan saja, sebelum atau sesufdah makan, setelah mencerna makanan pedas, atau pengiritasi, atau setelah mencerna obat tertentu atau alcohol.
3.      Apakah gejala berhubungan dengan ansetas, stress, alergi, makan atau minum terlalu banyak atau makan terlalu cepat.
4.      tanyakan bagaimana gejala hilang.
5.      adakah riwayat penyakit lambung sebelumnya atau pembedahan lambung
6.      apakah ada keluarga yang mempunyai gejala serupa dengan klien.
7.      apakah pasien memuntahkan darah.
b. Diagnosa keperawatan.
1.      Ansietas berhubungan degan pengobatan.
2.      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak           adekuat.
3.       Resiko kekurangan  volume cairan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, muntah.
4.       kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan diet dan proses penyakit.
5.      Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa lambung.
 c.  Intervensi
Tujuan utama  asuhan keperawatan pada klien gastritis ialah untuk mengurangi ansietas, menghindari makanan pengiritasi dan menjamin masukan nutrisi adekuat, mempertahankan keseimbangan cairan, meningkatkan kesadaran tentang penatalaksanaan diet, dan menghilangkan nyeri.
1.      Ansietas. 
a.       Berikan terapi pendukung pada pasien dan keluarga selama pengobatan dan setelah mencerna asam atau alkali yang telah di netralisasi atau di encerkan
b.      Siapkan pasien untuk pemeriksaan diagnostic (endoskopi) atau pembedahan.
c.       Beri penjelasan kepada klien dan keluarga tentang prosedur tindakan dan pengobatan .
2.      Nutrisi.
a.       Beri dukungan fisik dan emosi dan Bantu klien dalam menghadapi gejala.
b.      Beri penjelasan kepada klien  untuk tidak makan dan minum sampai gejala akut berkurang.
c.       Berikan  terapi intra vena bila di perlukan.
d.      Pantau terapi intra vena.
e.       Berikan makanan yang tidak mengiritasi bila gejala berkurang
f.       Evaluasi dan laporkan gejala yang timbul setelah pemberian makanan.
g.      Hindarkan makanan dan minuman yang dapat mengiritasi mukosa lambung
3.      Keseimbangan cairan.
a.       pantau masukan dan haluaran setiap hari.
b.      Berikan cairan intra vena bila perlukan
c.       Pantau tanda-tanda vital klien sesuai kebutuhan dan kondisi klien.
4.      nyeri
a.       Intruksikan kepada klien untuk menghindari makanan dan minuman yang dapat mengiritasi mukosa lambung.
b.      Kaji tingkat nyeri dan kenyamanan klien.
c.       Berikan analgetik  sesuai indikasi.
d.      Kaji TTV klien
5.      Pengetahuan
a.       Evaluasi pengetahuan klien tentang gastritik.
b.      Beri penjelasan kepada klien dan keluarga tentang diit klien
c.       Beri klien atau keluarga daftar zat-zat yang harus di hindari.
d. evaluasi
     hasil yang diharapkan antara lain:
  1. menunjukkan pberkurannya ansietas.
  2. menghindari makan makanan pengiritasi atau minuma yang mengandung kapein atau alcohol.
  3. mempertahankan keseibangan cairan.
    1. mentoleransi terapi intra vena sedikitnya 1,5 liter setiap hari.
    2. Minum 6-8 gelas air setiap hari.
    3. Mempunyai haluaran urin kira-kira 1 litewr setiap hari.
    4. Menunjukkan turgor kulit yang adekuat.
    5.  
  4. memmatuhi program pengobatan.
    1. memilih makanan dan minuman bukan pengiritasi.
    2. Menggunakan obat-obatan sesuai indikasi.
  5. melaporkan nyeri berkurang.




































PEMBAHASAN KASUS

1. DATA DEMOGRAFI.
   a. Biodata
Nama                                                       
Usia                                                          
Tempat,tanggal lahir                                
Jenis kelamin                                           
Anak ke                                                    
Nama ayah                                                  
Nama ibu                                                    
Pendidikan  ayah
Pendidikan ibu
Agama
Suku/bangsa
Alamat 

Tanggal masuk
Diagnosa medis
Sumber imformasi
:An. S
:14 thn
:Makassar, 19 agustus 1991
:Laki-laki
:2
:Usman
:Rina
:S1
:SMA
:Islam
:Makassar
:Tanjung bira no 12

:17 januari 2005
:Gastritis
:-
            
II. Riwayat keperawatan.
1. Keluhan Utama: Nyeri epigastrium, mual muntah
2. Riwayat keperawatan sekarang
2.1.Riwayat Keluhan utama




               
2.2. Lama keluhan
2.3. Akibat timbulnya keluhan






2.4. Factor yang memperberat
2.5. Upaya untuk mengatasi
2.6. lainnya
Keadaan ini dialami 2 hari sebelum masuk rumah sakit, muntah lebih dari 3 x berisi sisa-sisa makanan, nafsu makan menurun, Nyeri efigastrium tetapi tidak terus menerus hanya dirasakan ketika klien banyak bergerak, klien merasa lemas dan ketika berdiri terasa pusing.
2 hari
Makan makanan pedis dan berminyak






Pola makan yang tidak teratur
Mengkomsumsi  promag
-

3. Riwayat keperawatan sebelumnya:
3.1. (1). Prenatal
       (2). Natal
       (3). Post natal
3.2. Luka operasi
3.3. Alergi
3.4. Pola kebiasaan
3.5. Tumbuh kembang
3.6. Imunisasi
3.7. Status gizi
3.8. psikososial
3.9. interaksi

Baik
Baik
Baik
Tidak ada
Tidak ada
-
Baik
Teratur
Baik
Baik
Baik


4. riwayat genogram





























































 

















Keterangan:

     /        : Laki-laki /Perempuan
                    :  Meninggal
                     : Klien

III. Pemeriksaan fisik.
1)                  Keadaan umum klien



2)                  Kepala



3)                  Kulit

4)                  Mata



5)                  Telinga


6)                  Hidung


7)                  Mulut


8)                  Leher



9)                  Dada dan paru-paru


10)              Jantung

11)              Abdomen

Ekspresi wajah klien nampak cemas, ekspresi meringis bila nyeri menyerang dan bila daerah epigastrium ditekan. Kebutuhan aktivitas dilakukan di tempat tidur.
kulit kepala bersih rambut tidak mudah tercabut, tidak terdapat massa,tidak ada nyeri tekan pada
kepala, klien merasa pusing, penyebaran rambut merata dan teratur.
Kulit kering, tuirgor kulit bagus, tidak ada lesi pada kulit, warna kulit sawo matang
Gerakan bola mata dapat mengikuti gerakan jari perawat, tidak ada peradangan, tidak ada penonjolan bola mata, konjuntiva tidak anemi,  reaksi pupil mengecil jika terkena cahaya
Kemampuan mendengar klien baik, tidakl ada serumen, simetris kiri dan kanan, tidak ada infeksi, tidak ada nyeri tekan
 Klien dapat membedakan bau, simetris kiri dan kanan, tidak ada peradangan pada hidung, tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa.
produksi saliva normal, fungsi mengunyah baik, fungsi mengecap baik, lidah tampak kotor, tidak ada pembengkakan pada daerah mulut.
Tidak ada pembesaran pada kkelenjar tiroid, tidak teraba massa pada leher, tidak ada pembesaran pada kelenjar limfe, tidak ada peninggian pada vena jugularis
Bentuk dada normal, frekuensi napas 17x/mnt, mengikuti gerak napas, dada simetris kiri dan kanan, tidak ada nyeri tekan. Bunyi nafas normal.
Denyut apeks teraba pada ics 4-5, bunyi jantung normal,tidak ada bisin g jantung.
Simetris kiri dan kanan, tidak terdapat massa dan pembesaran, nyeri tekan epigastrium, peristaltic 25 x/mnt, tidak ada nyeri tekan pada kandung kemih, tidak terdapat pembesaran hepar.
Tidak terdapat udema, tidak ada nyeri tekan, tidak ada kelainan tulang.

DATA FOKUS
Data Subjektif
Data Objektif
        i.      Klien mengatakan nyeri epigastrium tetapi tidak terus menerus  
      ii.      Klien mrngatakan kurang nafsu makan
    iii.      Klien mengeluh kepala pusing jika berdiri
    iv.      Klien mengatakan badan terasa lemah.
      v.      Klien mengatakan mual muntah lebih dari 3 x berisi sisa makanan.
    vi.      Klien mengatakan kurang nafsu makan.
  vii.      Klien mengatakan nyeri bertambah bila banyak bergerak.
viii.      Klien mengatakan badan lemas.
i.      Klien nampak lemah.
  ii.Ekspresi wajah meringis.
iii.Porsi makan tidak dihabiskan.
iv.                                                Nyeri tekan pada daerah epigastrium.
iv. ADL dibantu.
v.                                                             
v Tanda-tanda vital:
TD = 100/70  mmHg
Napas = 17 x/mnt
Nadi =  80 x/mnt
Suhu = 36,5 C







ANALISA DATA
NO
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
1




















2.


















 3..

DS:
- Klien mengatakan nyeri ulu hati.
- Klien mengatakan nyeri bertambah
 bila banyak bergerak.
DO:                             
- Ekspresi wajah meringis.
- Enyeri tekan pada daerah epigastrium.
- TTD :
       TD      = 100/70  mmHg
       Napas = 17 x/mnt
       Nadi    =  80 x/mnt
       Suhu    = 36,5 C









DS
- KLien mengatakan mual muntah lebih  dari 3 x berisi sisa makanan
-Klien mengatakan nafsu makan   menurun
DO :
- Klien nampak lemah,
- Porsi makan tidak dihabiskan













DS :
-Klien mengatakan badan terasa lemah
-Klien mengatakan kepala pusing ketika  berdiri
DO :
- Klien nampak lemah
- ADL dibantu
Makanan tidak teratur


 


Asam lambung


 


Iritasi mukosa lambung


 


Merangsang pengeluaran zat radikinin, histamine dan serotin.


 


Dihantar ketalamus


 


Korteks serebri-


 


Nyeri

Makanan tidak teratur


 


Asam lambung



 


Iritasi mukosa lambung


 


Merangsang medulla


 


Mual-muntah


 


Intake tidak adekuat


 


Nutrisi kurang dari kebutuhan


Intake tidak adekuat


 


Energi kurang


 


Kelemasan fisik


 


Intoleransi aktivitas
  Nyeri




















 Nutrisi kurang dari kebutuhan



















Intoleransi aktivitas